Setelah melewati dua musim terakhir tanpa meraih satu pun trofi mayor, Real Madrid mengambil keputusan besar dengan mempercayakan proyek masa depan mereka kepada sosok pelatih yang sudah tidak asing lagi. Klub raksasa Spanyol berjuluk Los Blancos tersebut resmi menunjuk kembali Jose Mourinho, tepat 13 tahun setelah periode pertama kepelatihannya di ibu kota Spanyol berakhir.
Periode kedua juru taktik asal Portugal ini di Santiago Bernabeu memang dimulai dengan catatan yang cukup beragam, meski optimisme tetap menyelimuti skuad. Tantangan besar langsung menghadang di depan mata, terutama setelah tim mengalami kekalahan yang cukup memukul mental saat menghadapi Real Betis dan Atletico Madrid di atas lapangan.
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama media ternama Italia, Corriere dello Sport, yang kemudian dilansir oleh Diario AS, Jose Mourinho membuka suara mengenai proses kepindahannya kembali ke Real Madrid. Pelatih berusia berpengalaman tersebut mengakui bahwa pendekatan yang dilakukan oleh klub sempat membuatnya merasa sangat terkejut.
Mourinho mengungkapkan bagaimana dinamika transfer kepelatihannya bermula dari rumor alih-alih komunikasi langsung. “Biasanya, ada kontak terlebih dahulu, dan kemudian kebisingan dimulai begitu sesuatu benar-benar terjadi. Di sini, situasinya justru sebaliknya: kebisingan dimulai ketika belum ada kontak sama sekali,” ujar Mourinho.
Sebelum pinangan dari Madrid datang, sang pelatih tengah menikmati kebersamaannya bersama Benfica. Klub asal Portugal tersebut memiliki makna khusus baginya karena letaknya yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumah, sebuah kenyamanan yang belum pernah ia rasakan selama dua dekade terakhir berkarier di dunia sepak bola.
“Saya berada di Benfica, merasa bahagia. Itu adalah klub yang spesial bagi saya, sepuluh menit dari rumah, sesuatu yang belum pernah saya alami selama dua puluh tahun. Itu adalah klub yang membutuhkan perubahan radikal. Saya pikir saya akan tinggal di sana dan menyelesaikan kontrak tiga tahun saya,” kenang pelatih asal Portugal itu.
Ketika gelombang rumor mulai bermunculan di media massa, Mourinho awalnya menganggap hal tersebut sebagai angin lalu semata. Terlebih lagi, situasi internal Los Blancos saat itu sedang mengalami transisi setelah pergantian pelatih di tengah musim yang kemudian dilanjutkan dengan kehadiran Arbeloa, di mana hasil pertandingan masih belum menentu.
“Lalu semua kehebohan itu dimulai. Itu mengejutkan saya. Saya tidak terlalu memerhatikannya. Saya pikir, ‘Itu hanya rumor.’ Real Madrid telah mengganti pelatih mereka di tengah musim, dan kemudian Arbeloa tiba. Hasilnya tidak pasti, dan kehebohan itu dimulai. Tapi tidak ada seorang pun yang memberitahu saya apa pun. Ketika rumor itu dimulai, saya berpikir, ‘Ini tidak mungkin benar.’ Saya berada di Benfica, fokus pada Benfica dan masa depan klub. Saya tidak pernah berpikir itu benar,” jelasnya.
Soroti Kasus Negreira dan Hubungan dengan Carlo Ancelotti
Selain membahas kembalinya ia ke kursi kepelatihan Los Blancos, Jose Mourinho juga kembali menyoroti masalah perwasitan dalam dunia sepak bola Spanyol. Ia secara khusus menyinggung kembali kontroversi yang dikenal luas sebagai kasus Negreira.

Mourinho menegaskan bahwa dirinya bukanlah sumber masalah bagi klub, melainkan dihadapkan pada situasi yang kurang menguntungkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di sebuah klub baru. Ia mengenang bagaimana masa-masa sulit tersebut sudah dirasakannya langsung ketika pertama kali menangani Real Madrid bertahun-tahun silam.
“Saya tidak berpikir saya adalah masalahnya. Masalahnya adalah nasib buruk yang saya miliki ketika saya tiba di klub tertentu. Saya mengalami periode Negreira yang signifikan di sini di Real Madrid. Tidak ada yang mengetahuinya, tetapi kami mengalaminya. Itu terjadi. Itu terjadi. Saya pergi setelahnya, dan sekarang semua orang mengetahuinya,” ungkap Mourinho.
Pelatih yang juga pernah malang melintang di Liga Turki tersebut menambahkan bahwa situasi pelik serupa ternyata juga sempat ia temui di kompetisi Liga Turki menyusul skandal besar yang sempat mencuat di negara tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, mantan pelatih Inter Milan dan Chelsea ini turut melontarkan pujian tinggi kepada salah satu pendahulunya yang paling sukses di bangku cadangan Real Madrid, yakni Carlo Ancelotti. Hubungan baik di antara keduanya terlihat jelas dari kisah interaksi ringan yang dibagikan oleh Mourinho.
Mourinho menceritakan bagaimana Ancelotti sempat meminta izin khusus kepadanya demi bisa berbicara langsung dengan para penggawa Los Blancos. Sang pelatih asal Italia tersebut ingin memantau perkembangan terkini para pemain seperti Vinicius Junior, Rodrygo, Eder Militao, hingga kondisi Endrick yang saat itu tengah menderita cedera.
“Carlo hebat. Carlo ingin berbicara dengan para pemainnya, bukan? Dia ingin berbicara dengan Vinicius, untuk mencari tahu bagaimana Rodrygo melakukannya dan bagaimana perkembangannya, dan bagaimana Militao berkembang. Endrick juga cedera pada waktu itu, dan Carlo meminta izin saya untuk datang ke sini,” tutur Mourinho.
Sambil berkelakar dengan nada akrab, Mourinho mengaku sudah merasa bosan melihat wajah pelatih asal Italia tersebut mendominasi sudut-sudut fasilitas klub. Setiap kali ia menyusuri lorong markas latihan Real Madrid, gambar dan foto Ancelotti selalu terpampang di mana-mana.
“Tapi kamu benar-benar gila, Carlo! Tapi itulah Carlo juga. Carlo, aku sudah muak denganmu, karena setiap hari aku berjalan di koridor dan melihat foto-foto Carlo di sini, foto-foto Carlo di sana. Aku sudah muak denganmu!” pungkasnya.
Publik pendukung Real Madrid kini tentu berharap kehadiran Jose Mourinho dapat mengembalikan kejayaan klub ke level tertinggi yang sebelumnya juga sukses dicapai oleh Carlo Ancelotti, meski perjalanan panjang dan kerja keras masif harus dibayar tuntas oleh sang juru taktik.


