Sorotan besar bakal tertuju ke Stadio Olimpico pada Rabu malam saat Real Madrid dijadwalkan melakoni laga tandang kontra AS Roma. Pertandingan ini terasa semakin emosional karena menjadi panggung kepulangan José Mourinho ke hadapan para pendukung setia Serigala Ibu Kota. Juru taktik berusia 63 tahun tersebut dipastikan menjadi pusat perhatian publik sepak bola Italia, sebuah situasi yang sejatinya bukan hal yang paling ia sukai secara personal.
Bagi kalangan Romanisti, sosok José Mourinho tetap menempati posisi yang sangat dihormati. Sentuhan tangan dingin pelatih asal Portugal itu berhasil mengakhiri dahaga trofi AS Roma selama 14 tahun. Momen bersejarah tersebut tercipta pada tahun 2022 saat ia sukses membawa Giallorossi keluar sebagai kampiun edisi perdana UEFA Conference League usai menumbangkan Feyenoord pada partai puncak di Tirana. Setahun berselang, Mourinho kembali mengantar Roma melangkah jauh hingga ke final Liga Europa, kendati pada akhirnya harus menelan kekalahan lewat drama adu penalti melawan Sevilla di Puskás Aréna. Kenangan manis tersebut membuat publik Roma diprediksi bakal menyambutnya kembali dengan penuh kehangatan di Eternal City.
Dominasi dan Misi Lanjutan Los Blancos di Negeri Piza
Di atas lapangan hijau, Real Madrid datang ke markas Roma dengan kepercayaan diri tinggi demi melanjutkan tren positif mereka menghadapi wakil-wakil Serie A. Pada laga matchday pertama sebelumnya, Los Blancos telah sukses memetik kemenangan 2-1 saat bersua dengan Internazionale. Kemenangan tersebut semakin mempertegas dominasi historis klub raksasa Spanyol itu atas kesebelasan asal Italia di kancah antarklub Eropa.
Secara keseluruhan, Real Madrid tercatat telah mengoleksi 49 kemenangan dari total 87 pertemuan melawan tim-tim asal Italia. Sepanjang sejarah kompetisi, El Real tercatat pernah berhadapan dengan sembilan klub berbeda dari Negeri Piza. Angka keberagaman lawan tersebut hanya kalah banyak dari rekor pertemuan mereka melawan klub-klub asal Jerman, di mana Madrid tercatat telah menghadapi 16 lawan berbeda.
Menjelang lawatan krusial ke Roma, Los Merengues mengantongi catatan yang sangat mengesankan di wilayah Italia. Real Madrid berhasil menyapu bersih kemenangan dalam sepuluh pertandingan terakhir yang mereka mainkan di tanah Italia. Catatan sempurna ini membentang panjang sejak kekalahan 1-2 yang mereka derita dari Juventus asuhan Massimiliano Allegri pada leg pertama semifinal Liga Champions musim 2015 silam.
Titik Balik Historis Real Madrid di Italia
Rangkaian hasil impresif di Italia tersebut juga mencakup pertandingan final Liga Champions tahun 2016 di San Siro. Kala itu, skuad asuhan Zinédine Zidane sukses menundukkan rival sekota, Atlético Madrid, melalui babak adu penalti yang dramatis untuk mengamankan trofi bergengsi Eropa. Keberhasilan menaklukkan berbagai laga di Italia sejak 2015 menjadi bukti transformasi performa luar biasa bagi Madrid.
Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan periode kelam Los Blancos antara tahun 2005 hingga 2015. Dalam kurun waktu satu dekade tersebut, Real Madrid sempat mengalami masa paceklik parah dengan gagal meraih satu pun kemenangan dari delapan laga tandang ke markas klub Italia, di mana empat pertandingan di antaranya bahkan berujung dengan kekalahan. Madrid sempat tersingkir berulang kali dari Liga Champions di tangan tim Italia, mulai dari Juventus pada 2005, AS Roma pada 2008, hingga kembali dijegal Juventus pada 2015.
Perubahan drastis dari rentetan delapan pertandingan tandang tanpa kemenangan menjadi sembilan kemenangan beruntun di laga tandang Italia menggambarkan pergeseran dominasi yang nyata. Fenomena ini kerap dinilai sejalan dengan dinamika penurunan kekuatan kompetisi Serie A yang bertepatan dengan kebangkitan kembali Real Madrid sejak era keberhasilan meraih La Décima.
Kenangan manis terakhir Los Merengues saat berlaga di Stadio Olimpico tercipta ketika tim yang saat itu ditukangi Santiago Solari sukses mengalahkan Roma asuhan Eusebio Di Francesco dengan skor meyakinkan 2-0. Pada laga tersebut, gol-gol kemenangan Madrid dicetak oleh Gareth Bale dan Lucas Vázquez. Menariknya, pada fase grup musim itu, Madrid sempat menelan kekalahan kandang dan tandang dari CSKA Moskva, namun tetap sanggup mengakhiri babak penyisihan sebagai juara grup.
Kini, hasil positif serupa kembali dibidik oleh kubu Real Madrid saat menyambangi ibu kota Italia. Kendati demikian, Gian Piero Gasperini bersama skuad asuhannya dipastikan memiliki motivasi besar untuk memutus rekor cemerlang sang raksasa Spanyol sekaligus merusak momen kepulangan Mourinho ke Roma.


